Yang Memenuhi Hati

Suli hidup dari pensiunnya yang kecil. Rumahnya kecil, hidupnya pun sederhana. Sore itu Suli berkisah: “Bu Y orang terpandang. Rumahnya besar, hartanya melimpah, semua anaknya jadi orang. Tetapi, dia tak henti mengeluh, ‘Lihat Bu S. Dua anaknya dokter, satu lagi S3. Bahagia banget. Lha anak-anakku? Semua cuma S1. Kapan aku bahagia?'”

“Dikaruniai begitu banyak kok masih mengeluh”, ujar Suli. “Aku ini cuma begini, tetapi selalu happy; sibuk berbahagia, tak ingat untuk mengeluh.” Lalu, perlahan dia bergumam, “Jangan-jangan aku abnormal.”

Tiap kali ingat Suli, aku ingat kisah Daud. Hidup Daud penuh kerikil tajam, namun Tuhan selalu menjadi perisai dan kekuatannya. Dia tak henti dilibat masalah berat, namun Tuhan selalu menolongnya. Daud selalu melihat dan tak henti menyadari betapa Tuhan amat mengasihinya. “Sebab itu beria-ria hatiku, ” seru Daud, “dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya” (ay. 7). Kesadaran itu, yakni bahwa Tuhan senantiasa mengasihi, selalu memenuhi hati Daud. Karena itulah, dari hati Daud tak henti meluap sukacita dan rasa syukur.

Apa yang memenuhi hati, itulah kuncinya. Ada orang yang punya hampir segalanya, tetapi merasa tak punya apa-apa, merasa diri begitu malang, jauh dari bahagia. Ada orang yang hidup pas-pasan, tetapi merasa tak henti dicintai, hingga baginya tiap hari adalah hari bahagia penuh syukur. Rupanya benar kata orang, “Bukan apa yang memenuhi dompetmu yang membuatmu penuh syukur, melainkan apa yang memenuhi hatimu.” –EE/www.renunganharian.net

JIKA PERASAAN DICINTAI DAN DIBERKATI MEMENUHI SANUBARI,
HANYA SUKACITA DAN SYUKUR YANG AKAN MELUAP DARI HATI.-O.S. RAILLE