Tolok Ukur Sembrono

Banyak orang sembrono menetapkan tolok ukur kehidupan manusia. Dikatakan hidupnya berkenan kepada Tuhan bila harta makin bertambah, tubuh sehat, seluruh anggota keluarga dalam keadaan baik. Ketika hidup berkekurangan, keluarga berantakan, mengidap penyakit mematikan, dikatakan bahwa Tuhan tidak berkenan kepadanya dan hidupnya terkutuk.

Simei tidak henti-hentinya melontarkan kata-kata kutuk ketika melihat Daud melarikan diri dari istana oleh sebab kudeta dari Absalom, anaknya. Menurut Simei, hari itu adalah hari pembalasan Tuhan kepada Daud atas dosa-dosanya terhadap keluarga Saul. Apa yang terjadi pada Daud memang adalah hukuman dari Tuhan, namun bukan atas keluarga Saul, melainkan perzinahan yang dilakukannya terhadap Batsyeba (lih. 2Sam 12:7-12)! Sekalipun demikian, tiada pernah Tuhan menjauhkan kasih-Nya daripada Daud. Tuhan memulihkan keadaannya sehingga ia akhirnya kembali memerintah sebagai raja. Pada hari perjalanan Daud kembali ke istana, barulah Simei menyadari kalau tolok ukur yang ia gunakan sudah sembrono (2Sam. 19:18-20).

Suatu penderitaan, apabila dijalani dengan ketabahan dan sukacita, dapat menjadi berkat karena memberi kekuatan bagi orang-orang yang mengalami situasi serupa. Sebaliknya mendapatkan kekayaan dan kesejahteraan, apabila kita tidak waspada, akan menjerat kita ke dalam dosa kesombongan! Berhenti menetapkan tolok ukur sembrono terhadap kehidupan seseorang! Hanya sorot mata Tuhanlah yang mampu menguji hati seseorang untuk melihat apakah ia benar-benar berkenan kepada-Nya (Mzm. 11:4)! –LIN/www.renunganharian.net

MENETAPKAN TOLOK UKUR YANG SEMBRONO
ADALAH SAMA SEPERTI KITA MENGHAKIMI ORANG LAIN.