Tidak Sembarang Kerja

Tentunya kita tidak asing dengan istilah “Ora et Labora”-Berdoa dan Bekerja. Dua “dayung” yang saling melengkapi. Tidak cukup kita berdoa saja untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan berharap ada “durian” rejeki runtuh dari langit begitu saja.

Untuk memenuhi kebutuhan spiritual bangsa Israel dan melakukan ketetapan Tuhan Allah agar bangsa itu selalu beribadah kepada-Nya, Tuhan memerintahkan membuat tabernakel sebagai tempat menyimpan dua loh batu berisi hukum-hukum Tuhan. Tuhan sendiri-bukan Musa-yang menunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur dari suku Yehuda dan Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, sebagai “arsitek”-nya. Ada hal yang penting dalam catatan Kitab Keluaran ini, yaitu bahwa sebelum memulai pembuatan tabernakel, Bezaleel dan Aholiab dicatat sebagai orang yang telah dipenuhi oleh Roh Allah yang memperlengkapinya dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan dalam segala macam pekerjaan, serta untuk merancang segala sesuatu yang diperlukan (ay. 31).

Di sini kita melihat adanya hubungan antara pekerjaan yang akan dilakukan oleh seseorang dengan Tuhan, Sang Pemberi pekerjaan. Manusia dapat melakukan pekerjaannya dengan baik, justru karena Tuhan Allahlah yang memberinya kemampuan yang diperlukan untuk pekerjaan itu. Dengan demikian, seharusnya manusia tidak sekadar bekerja atau bekerja sekadarnya, karena Tuhan sendirilah yang membuat manusia dapat melakukan pekerjaannya. Dalam bekerja, manusia tidak boleh melupakan karya Tuhan di dalam dirinya dan karenanya manusia harus terus bersyukur kepada-Nya. –AAS/www.renunganharian.net

MANUSIA DAPAT MELAKUKAN PEKERJAANNYA
OLEH KARENA TUHAN MEMBERINYA KEMAMPUAN.