Tidak Menjadi Padam

Bagaimana mungkin Ezra, dari seorang buangan menjadi orang kepercayaan raja? Bagaimana mungkin ia dipercaya dan diutus oleh raja Artahsasta untuk membangun Bait Allah di Yerusalem? Mengapa Ezra begitu istimewa di mata Raja Artahsasta? Sebab Ezra memiliki kehidupan yang berbeda, seorang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati. Bahkan orang-orang di seluruh Babel mengenalnya sebagai orang yang ahli dalam hal Taurat Tuhan. Itulah sebabnya, “… raja memberi dia segala yang diingininya, oleh karena tangan TUHAN, Allahnya, melindungi dia” (ay. 6).

Belajar dari keteladanan Ezra, dalam kondisi sulit dan penuh tekanan, justru bertekun meneliti dan merenungkan Taurat Tuhan itu siang malam. Sementara orang-orang buangan lain mungkin sedang merenungi nasib dan mengasihani diri sendiri. Tak berhenti di situ, ia pun tekun mengajarkannya kepada orang-orang buangan di Babel. Kehidupan Ezra benar-benar menjadi kesaksian bagi bangsanya. Karena itu ia dipercaya melaksanakan mandat sang raja. Ya, Ezra tidak hanya mahir tentang Taurat Tuhan secara teori, tapi juga setia melakukan Taurat Tuhan itu dalam kehidupannya sehari-hari.

Ada saat dimana kita dibawa dalam sebuah situasi yang sulit untuk menguji kualitas iman kita. Mungkin kita berada di tengah-tengah begitu banyak orang yang kehilangan harapan. Apakah kita tetap berkomitmen untuk menunjukkan kehidupan yang berbeda? Apa pun situasinya, kiranya roh kita tidak pernah padam untuk tetap berpegang kepada firman-Nya. –SYS/www.renunganharian.net

PERKENANAN TUHAN AKAN NYATA KEPADA ORANG-ORANG
YANG SETIA BERPEGANG PADA FIRMAN-NYA.