Tidak Dapat Dirampas

Dalam film The Prince of Egypt, Musa mendatangi Firaun, menuntutnya melepaskan bangsa Israel dari perbudakan. Firaun malah bersikeras semakin menindas mereka. Harun digambarkan gentar dan meminta Musa menghentikan misinya. Musa menjawab, “Memang benar, Firaun memiliki kekuasaan. Ia dapat mengambil makananmu, rumahmu, kemerdekaanmu bahkan nyawamu. Namun, ada satu hal yang tidak dapat diambilnya darimu: imanmu. Percayalah, karena kita akan menyaksikan keajaiban Allah.”

Tampaknya ada hal-hal yang tidak dapat diambil dari diri seseorang. Kebenaran ini terlihat pula dalam kisah pencobaan Ayub. Ia ditimpa penderitaan yang tak kepalang tanggung. Malapetaka beruntun mendatanginya: ternak dan para penjaganya sebagian dirampas orang Syeba (ay. 14-15), sebagian disambar api dari langit (ay. 16), dan sebagian lagi dirampas orang Kasdim (ay. 17). Tidak berhenti di situ, sepuluh anaknya juga direnggut darinya: mereka mati sekaligus tertimpa rumah (ay. 18-19). Namun, ada yang tidak dapat dirampas dan tidak bisa direnggut dari dirinya: imannya. Di tengah deraan penderitaan tersebut, ia memilih untuk sujud dan menyembah Allah (ay. 20).

Saya tidak yakin dapat setabah Musa dan Ayub jika menghadapi ancaman atau kemalangan beruntun. Bisa jadi saya gagal mempertahankan iman saya dan meragukan kebaikan Allah. Namun, saya bersyukur karena di dalam Yesus Kristus, saya memiliki Imam Besar, yang dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan saya, dan menyediakan pertolongan pada waktunya (Ibr. 4:15-16). –ARS/www.renunganharian.net

KITA DAPAT MEMPERTAHANKAN IMAN BUKAN DENGAN KEKUATAN PRIBADI,
MELAINKAN DENGAN MENGANDALKAN ANUGERAH DAN PERTOLONGAN KRISTUS.