Tertuju pada Kita

Setelah suami dan kedua anak laki-lakinya mati, Naomi, yang semula tinggal di Moab kembali ke tanah Yehuda. Rut, menantunya, bersikeras untuk ikut (Rut 1:16-17). Sampai kemudian tibalah keduanya di Betlehem. Rut berpikir tidak ada jalan mereka berdua bisa bertahan hidup selain ia menyingsingkan lengan lalu bekerja. Kata Rut pada Naomi: “Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku” (ay. 2).

Pada petang hari Rut mengirik jelai yang dipungutnya, ada kira-kira seefa banyaknya (ay. 17). Luar biasa! Jumlah itu ia dapatkan sebab mata Boas, sang pemilik ladang, tertuju padanya. Kepada para pekerjanya Boas berpesan: “… haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya” (ay. 16). Onggokan jelai yang sengaja ditarik menunjukkan kemurahan. Betapa jauh lebih indah ketika mata Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan, tertuju pada kita! Tentu kemurahan-Nya akan dicurahkan kepada kita. Tak lagi kita “memungut” sisa-sisa, tetapi menikmati limpahnya berkat-berkat Tuhan.

Rut dikenal sebagai perempuan yang menunjukkan kasih pada mertuanya (ay. 11). Pula Rut dikatakan sebagai seorang yang giat bekerja (ay. 7) Dua hal inilah yang membuat Boas, sesudah memandang Rut, tidak berpaling darinya. Tuhan menggerakkan hati Boas supaya ia mengupayakan kebaikan baginya (ay. 11-12). Rindukah mata Tuhan tertuju pada kita? Mari senantiasa menunjukkan kasih pada sesama! Juga giat mengerjakan segala hal yang Tuhan percayakan di tangan kita! –LIN/www.renunganharian.net

SAAT MATA TUHAN TERTUJU PADA KITA,
MAKA YANG ADA DI SEKELILING KITA ADALAH KEMURAHAN.