Tekanan Sosial

Ketika SMA, saya tidak ingin menyontek. Namun saya merasa tidak berdaya ketika seluruh kelas menyontek. Mereka mendapat nilai baik, saya tidak. Merasa diperlakukan tidak adil, saya pun ikut menyontek. Apalagi teman-teman mengatakan bahwa kalau tidak menyontek berarti bodoh dan merugikan diri sendiri. Peristiwa yang saya sesali itu memberi pelajaran penting: saya mudah menyerah terhadap tekanan sosial.

Tekanan yang jauh lebih hebat dialami oleh Kaleb, Yosua, juga Musa dan Harun. Ketika itu, seluruh bangsa menangis dengan suara nyaring dan bersungut-sungut. Mereka protes karena Musa dan Harun membawa mereka keluar dari Mesir. Padahal mereka sedang ketakutan karena berhadapan dengan bangsa asing yang berbadan besar dan kuat. Orang Israel benar-benar lupa bahwa mereka pernah TUHAN bebaskan dari kejaran bala tentara Mesir dengan cara yang sangat ajaib. Yosua dan Kaleb tampil untuk menenangkan. Mereka sama sekali tidak takut kepada kemarahan dan tekanan massa. Sebaliknya, Yosua dan Kaleb berusaha meneguhkan iman orang Israel dan membujuk mereka agar tidak memberontak kepada TUHAN.

Sering, kita juga berhadapan dengan orang banyak yang menginginkan kita berbuat dosa seperti mereka. Kita pun ditekan, secara halus ataupun kasar. Belajar pada Yosua dan Kaleb, kita dapat bertahan dengan iman yang teguh. Tidak perlu takut tekanan sosial, karena Tuhan beserta kita. Penderitaan yang sementara sifatnya mungkin kita alami. Namun penghargaan dari Tuhan akan kita nikmati setelahnya. –HEM/www.renunganharian.net

MARI HADAPI TEKANAN SOSIAL DENGAN IMAN YANG TEGUH, PERCAYA BAHWA
TUHAN BESERTA DENGAN MEREKA YANG MEMPERTAHANKAN KEBENARAN.