Tanpa Tendensi

Menegur seseorang dalam kebenaran bukan perkara mudah. Ya kalau orang tersebut menganggap teguran sebagai wujud kasih sehingga ia mau membuka hati untuk menerima dengan sukacita. Jika tidak, bisa-bisa pihak yang menegur malah mendapat masalah. Mulai dari dianggap ikut campur urusan orang lain, dianggap menentang/menantang, hingga menimbulkan dendam yang berbuntut panjang.

Amos mendapat panggilan dari Tuhan untuk menyampaikan nubuat kepada bangsa Israel. Namun nubuatan dari Tuhan itu ditolak oleh Amazia- imam di Betel. Hal ini terjadi lantaran Amos menyampaikan nubuatan yang merinci kesalahan dan hukuman bagi Israel. Amos dipandang melawan raja dan bangsa Israel. Namun kesimpulan Amazia tidak menyurutkan niat Amos menjalankan tugasnya. Amos tetap menyampaikan berita itu sekalipun ia ditolak, karena ia tidak memiliki kepentingan apa-apa terhadap siapa pun. Amos hanya menaati perintah Tuhan yang mengutusnya ke Israel. Amos tidak hendak melawan raja dan bangsa Israel. Amos tidak mencari makan/upah melalui nubuatannya. Lagi pula Amos tetap menjadi seorang gembala, tidak berniat menjadi seorang nabi profesional yang bernubuat di istana raja untuk mendapat dukungan finansial dari kerajaan.

Beratnya risiko yang harus dihadapi tidak membuat Amos undur dari tugas perutusannya karena ia memiliki keteguhan hati untuk tunduk hanya kepada Tuhan. Pun demikian mestinya orang percaya masa kini sebagai nabi-nabi Tuhan: rela melepaskan segala tendensi demi menyuarakan dan menyatakan kebenaran Tuhan. –EBL/www.renunganharian.net

BERPIKIR DAN BERTINDAK BAGI TUHAN MENUNTUT
KEBERANIAN KITA MELEPAS SEGALA TENDENSI DUNIAWI.