Tanah yang Baik

Methuselah adalah tanaman dari biji hasil penggalian arkeologi di daerah Masada, Israel. Sebuah guci kuno ternyata berisi biji-bijian yang berumur 2000-an tahun. Biji-bijian ini kemudian dibawa ke ahli botanika untuk diteliti, bahkan dicoba ditanam kembali. Meskipun sudah sangat tua, biji ini ternyata dapat tumbuh. Pertumbuhan biji ini rupanya didukung oleh faktor tanah yang baik.

Yesus memakai cerita sehari-hari atau perumpamaan untuk membuat orang banyak paham akan rahasia Kerajaan Allah. Benih itu ialah firman Allah (ay. 11). Ada empat jenis tanah tempat benih itu jatuh: pinggir jalan (ay. 5), tanah berbatu (ay. 6), tanah penuh semak duri (ay. 7) dan tanah yang baik (ay. 8). Hanya jenis tanah baik yang akan membuat benih ini dapat bertumbuh dan berbuah. Orang-orang yang memiliki jenis tanah yang baik ini adalah mereka yang tidak hanya mendengar, tapi menyimpannya dalam hati (NIV, retain it: menahannya). Firman Allah yang ditahan dalam hati atau diendapkan pastilah akan berbuah. Buah-buah kehidupan yang lahir dari firman Allah akan menolong orang percaya menghadapi tantangan yang dapat menyerang kapan saja.

Alkitab adalah firman Allah yang tertulis. Meskipun banyak diserang oleh para cendekiawan, relevansi Alkitab tetap akurat sampai masa kini. Sudahkah kita membacanya dan menahan setiap perkataan-perkataannya dalam hati kita? Jika kita ingin bertumbuh dan berbuah, kita harus siap membajak hati agar menjadi jenis tanah yang baik. –YDS/www.renunganharian.net

FIRMAN ALLAH ITU SEBAIKNYA DITAHAN DALAM HATI,
BUKAN DIMUNTAHKAN KE LUAR.