Takut Seumur Hidup

Ketika wabah virus Covid-19 menyerang, banyak yang takut terinfeksi olehnya. Rasa takut itu wajar. Virus ini memang sangat menular dan mematikan. Banyak juga ketidakjelasan tentang penyakit ini. Ada yang tampak sehat, padahal ia menularkannya kepada orang lain. Ada yang memunculkan gejala dan hidupnya berakhir tidak lama sesudahnya. Tidak seorang pun dapat menjamin bahwa dirinya imun terhadap penyakit ini. Orang yang dekat dengan kita, atau jangan-jangan diri kita pun mungkin sudah terjangkit penyakit ini.

Berbeda sikap dengan ancaman virus ganas ini, kita justru sangat sering bersikap biasa saja terhadap dosa. Salah satu alasan pembenarannya adalah anggapan bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Pengampun. Benar bahwa Tuhan mengampuni dosa. Tepat pula bahwa Allah menjamin hidup kekal bagi kita yang percaya kepada-Nya. Meskipun demikian, Ia menuntut kekudusan, sebab Allah adalah kudus (ay. 16). Ia adalah Hakim yang adil. Karena itu, sekalipun saat ini Ia telah menjadi Bapa bagi kita yang percaya pada-Nya, Allah tetap membenci dosa. Itu sebabnya kita tidak boleh mengikuti dorongan hawa nafsu kita. Sebaliknya, haruslah kita hidup kudus di hadapan-Nya (ay. 15).

Tentu hidup dalam ketakutan sangatlah terkekang. Namun kasih kita kepada Yesus yang telah melunasi utang dosa dengan harga teramat mahal (ay. 18-19), harus menjadi pemacu semangat bagi kita untuk hidup kudus. Ingat bahwa bumi bukanlah rumah kita. Dalam kehidupan yang singkat ini, kiranya kita bersungguh-sungguh hidup dalam kebenaran dan kasih (ay. 22). –HEM/www.renunganharian.net

TAKUT KEPADA BAPA YANG KUDUS DAN KASIH KEPADA KRISTUS
KIRANYA MENJADI PEMACU BAGI KITA UNTUK HIDUP DALAM KEKUDUSAN.