Takut Menyesal

Seorang pria yang bekerja sebagai guru baru saja diangkat sebagai kepala sekolah. Belum lama menjabat ia sudah harus menghadapi sikap bawahan yang sering memprotes bahkan menghambat kinerjanya. Alih-alih marah demi menunjukkan kewibawaan, ia mengarahkan bawahannya dengan cara halus. Ia pun tetap bertindak dengan tenang saat orang mulai mencibirnya: “Laki-laki kok lemah! Nggak tegas!” Ketika seorang teman membujuknya untuk membalas kejahatan orang-orang di sekitarnya, pria itu menjawab, “Aku takut menyesal! Hidup di dunia hanya sebentar.”

Orang yang hidup dalam terang pasti berpikir sebelum bertindak. Sebab mereka telah meninggalkan kebebalan dan hidup sebagai orang arif. Berbeda dengan orang bebal yang hidup menuruti pemikiran sendiri dan mengejar kesenangan duniawi, orang arif mempergunakan setiap waktu semaksimal mungkin bagi kemuliaan Tuhan. Hati mereka dipenuhi hikmat dan kasih sehingga tidak mudah tersulut emosi sekalipun banyak orang di sekitarnya memperlakukannya dengan jahat.

Melakukan kejahatan mungkin membuahkan kepuasan karena emosi negatif yang kita rasakan segera tersalurkan. Namun, pribadi yang hidup dalam terang kebenaran Kristus mestinya memiliki kemampuan untuk mengolah hati dan menyadari bahwa kepuasan yang dihasilkan dari kejahatan hanya berlangsung sesaat. Selanjutnya, apa sih yang kita dapatkan setelah puas memaki dan membalas kejahatan orang? Tidakkah dalam hati kita timbul rasa malu dan menyesal karena telah mempertontonkan kegagalan hidup sebagai anak-anak terang? –EBL/www.renunganharian.net

ANAK-ANAK TERANG DIPERLENGKAPI HIKMAT DARI SURGA
YANG MEMAMPUKANNYA MEMPERGUNAKAN WAKTU DENGAN SAKSAMA.