Tak Dapat Dipulihkan Lagi

Setelah cukup lama tidak terkena tilang, saya agak terkejut ketika suatu pagi saya kena tilang dalam suatu razia sepeda motor. Kesalahan yang saya lakukan pun sepele, yakni lampu utama sepeda motor belum saya nyalakan. Reaksi membela diri dan merasa tidak bersalah-walau hanya berupa gerutuan pribadi- langsung muncul daripada koreksi diri dan mengakui kesalahan. Untunglah hal itu tak berlangsung lama setelah ada bisikan dalam hati, “Sudah salah, masih membela diri dan merasa benar.” Aha, ternyata Roh Kudus sedang mengaktifkan hati nurani untuk menegur saya!

Melakukan kesalahan atau melanggar peraturan adalah hal yang manusiawi. Begitu pula dengan respons yang biasanya muncul, seperti nasihat, teguran, peringatan, hingga sanksi bagi pelaku kesalahan atau pelanggaran tersebut. Namun, sayangnya, beberapa orang merespons hal itu dengan membela diri, merasa benar, bahkan bersikap reaktif, tanpa terlebih dahulu melakukan refleksi atau evaluasi diri. Terhadap respons yang demikian, firman Tuhan mengingatkan agar kita berhati-hati. Orang yang memilih bersitegang leher terhadap nasihat atau teguran, maka suatu saat kehidupan orang itu akan hancur dan tak dapat diperbaiki lagi. Betapa ngerinya!

Jangan sampai kita dikenal sebagai orang yang merasa diri paling benar dan tidak memerlukan nasihat atau koreksi. Mengapa? Karena tak jarang, Tuhan memakai nasihat, koreksi, hingga peringatan dan sanksi untuk memproses diri kita agar menjadi pribadi yang lebih baik. –GHJ/www.renunganharian.net

ORANG YANG MERASA DIRINYA SELALU BENAR,
TAKKAN PERNAH MENDAPAT MANFAAT DARI NASIHAT DAN TEGURAN.