Tak Ada Perbedaan

Setiap pagi pria Yahudi berdoa demikian, “Saya bersyukur karena Allah tidak menciptakan saya sebagai seorang kafir, seorang budak dan seorang perempuan.” Dalam budaya Yahudi seorang perempuan bukanlah suatu pribadi, melainkan sebuah benda. Perempuan tidak mempunyai hak legal satu pun. Ia milik mutlak suaminya yang boleh memperlakukannya sesuka hati.

Jemaat Efesus sebagian besar berlatar belakang Yahudi. Karena itulah pemahaman-pemahaman Yahudi masih mewarnai relasi di antara jemaat sehari-hari. Termasuk di dalamnya hubungan antara suami istri. Meski mereka telah menjadi Kristen namun pemahaman tentang perempuan lebih inferior dari laki-laki masih memenuhi benak mereka. Bahkan ada yang masih memperlakukan istri mereka menurut pandangan Yahudi.

Paulus yang mendapat informasi tentang hal itu memberikan penggembalaan. Paulus menasihati bahwa adalah benar seorang istri harus tunduk kepada suami seperti jemaat tunduk kepada Allah. Tunduk karena kasih dan bukan karena intimidasi. Tunduk karena ungkapan syukur dan bukan karena perbudakan.

Hal yang sama pentingnya bahwa suami harus mengasihi istrinya seperti Tuhan mengasihi jemaat-Nya. Suami harus melindungi istrinya seperti Tuhan melindungi jemaat-Nya. Suami harus berkorban untuk istrinya seperti Tuhan berkorban untuk jemaat-Nya. Suami harus memenuhi kebutuhan istrinya seperti Tuhan menjamin segala kebutuhan jemaat-Nya. Demikianlah hubungan Tuhan dengan jemaat-Nya. Karena itu sebagai suami istri berlakulah demikian! –Yudas/www.renunganharian.net

DARI SEMULA ALLAH MENCIPTAKAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN SERUPA
DENGAN GAMBAR-NYA. SALING MERENDAHKAN BERARTI TAK MENGHARGAI-NYA.