Syukur dan Pujian

Di dunia medis ada alat yang disebut Heart Rate Variability Monitor yang berfungsi untuk mengukur ritme/irama detak jantung seseorang. Idealnya irama atau ritme detak jatung dari detak satu ke detak yang lain itu teratur dan seimbang. Penelitian HeartMath Institute mengungkap bahwa penghargaan, pujian, belas kasihan, kemurahan hati dan ucapan syukur dapat menciptakan ritme detak jantung seseorang menjadi seimbang dan selaras. Hal tersebut menyebabkan seseorang merasakan kedamaian dan terhindar dari stres. Sebaliknya frustrasi, kemarahan, kepahitan, kebencian dan emosi-emosi beracun lainnya akan menyebabkan ketidaksinkronan irama jantung sehingga akan menyebabkan seseorang menderita kegelisahan dan stres.

Pemazmur mengajarkan agar umat Tuhan senantiasa bersyukur dan memuji Tuhan, “Bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya.” Dalam tradisi Yahudi bersyukur dan memuji Allah adalah ciri kesalehan. Sementara itu Tuhan Yesus memusatkan tindakan dan ajaran-Nya pada kasih. Ia mengajarkan agar setiap orang mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Prinsip tersebut di atas secara ilmiah mengungkapkan bahwa seseorang yang bersyukur dan membiasakan memuji, dengan cepat akan berpindah dari frustrasi, depresi, khawatir, jengkel, marah atau benci kepada penghargaan dan kedamaian. Demikian pula mereka yang menanggapi segala sesuatu dengan “kepuasan”, penghargaan, pengampunan, sukacita, kasih dan belas kasihan menjadi orang yang sangat damai dalam hidupnya. –PRB/www.renunganharian.net

ALLAH MENGINGINKAN KITA BUKAN HANYA SEHAT SECARA ROHANI
TETAPI JUGA SECARA JASMANI, KARENA ITU BERSYUKUR DAN MEMUJILAH.