Sulit Bersyukur

Saya sering mendengar orang berkata, “Kita lebih mudah bersyukur ketika sedang bahagia daripada ketika sedang sengsara.” Pada umumnya memang begitu. Namun, tidak jarang saya menemukan situasi yang, jujur saja, memalukan: bahkan dalam keadaan yang seharusnya membahagiakan pun, saya tidak bersyukur. Di meja makan sudah tersedia hidangan yang sehat, misalnya, namun saya menganggapnya biasa saja, dan malah iri ketika melihat ada teman di Facebook memasang foto sedang menikmati sajian lezat di restoran mewah.

Kisah dalam Injil Lukas ini meneguhkan kecenderungan tersebut. Sepuluh orang kusta mengharapkan kesembuhan, Yesus menyuruh mereka mendatangi imam, dan di tengah jalan mereka ditahirkan. Namun, hanya satu orang yang, setelah menyadari kesembuhan itu, berbalik untuk memuliakan Allah dan bersyukur kepada-Nya. Jika dihitung, hanya 10% orang yang tahu bersyukur. Sisanya-90% alias mayoritas-tidak tahu bersyukur. Memprihatinkan, bukan?

Apakah kunci pembedanya? Firman-Nya menunjukkan: iman, atau kepercayaan kepada kuasa Yesus (ay. 19). Iman mencelikkan mata rohani sehingga kita dapat mengenali kebaikan Allah, memuliakan Dia, dan bersyukur kepada-Nya. Lebih jauh lagi, iman merupakan kunci untuk mengalami keselamatan.

Tentu saja, saya ingin menjadi orang yang tahu bersyukur. Kenyataannya, saya kerap tergelincir tidak tahu bersyukur. Jadi, bagaimana? Tampaknya saya perlu berdoa, “Ya Allah, hidupkanlah iman saya sehingga, dalam keadaan apa pun, saya dapat mengenali kebaikan-Mu dan bersyukur kepada-Mu.” –ARS/www.renunganharian.net

IMAN MENCELIKKAN MATA KITA UNTUK MENGENALI KEBAIKAN ALLAH
DAN MEMAMPUKAN KITA MENGUCAP SYUKUR KEPADA-NYA.