Sukacita yang Benar

Yunus diutus Tuhan untuk memberitakan penghukuman atas Niniwe yang jahat. Namun ternyata mereka semua bertobat, berpaling dari kejahatannya. Tuhan pun mengampuni mereka. Dia urung menimpakan hukuman atas mereka. Bukannya senang, Yunus justru marah. Ia membenci penduduk Niniwe. Mereka adalah musuh bangsanya. Ia menginginkan kehancuran mereka. Itu sebabnya ia lari ketika pertama kali Tuhan mengutusnya untuk memperingatkan kota itu.

Dalam kemarahan, ia pergi ke sebelah timur kota itu, mendirikan pondok, sambil menantikan sesuatu terjadi atas Niniwe. Secara ajaib, Tuhan menumbuhkan sebatang pohon untuk menaungi Yunus dari panas. Itu membuatnya terhibur dan bersukacita. Namun esoknya seekor ulat menggerek pohon itu hingga layu. Yunus kembali marah kepada Tuhan. Saat itulah Tuhan memberinya pelajaran.

Yunus bersukacita atas sebatang pohon yang menaunginya. Dan ia berduka ketika pohon itu mati. Tetapi terhadap lebih dari 120 ribu orang yang bertobat, ia justru marah. Tuhan menunjukkan bahwa Dia sangat berduka ketika orang-orang binasa. Dia menginginkan pertobatan dan keselamatan mereka. Tuhan menunjukkan bahwa Dia bukan hanya mengasihi Israel, tetapi bangsa-bangsa lain juga. Tuhan ingin Yunus bersuka bukan karena hal-hal yang sementara dan menyenangkan baginya serta menguntungkannya, tetapi atas sesuatu yang bernilai kekal, yaitu ketika orang-orang mengalami kasih dan pengampunan-Nya, serta berbalik kepada-Nya. Kiranya itu juga menjadi sukacita kita. –HT/www.renunganharian.net

MENYAKSIKAN ORANG-ORANG MENGALAMI KEMURAHAN DAN KEBAIKAN TUHAN
SEHARUSNYA MEMBUAT KITA BERSUKACITA. ITULAH SUKACITA YANG BENAR!