Sudah Dewasa

Perhatikanlah seorang anak kecil! Ketika seorang anak merasa diperlakukan tidak adil, maka ia akan cenderung bersikap iri hati, cemburu kepada anak yang lain. Umumnya, anak kecil ingin dianggap lebih baik dari anak-anak yang lain. Menjadi lebih menarik ketika Rasul Paulus memakai perangai anak-anak di salah satu bagian tulisannya untuk menasihati jemaat di Korintus.

Mengutip kata-kata Maurice E. Wagner, seorang penulis buku, ia berkata bahwa masalah yang paling umum terjadi dalam suatu hubungan dengan orang lain adalah kecenderungan untuk mengendalikan seseorang yang kita kasihi. Kita menjadi posesif, pencemburu dan terlalu banyak menuntut. Bukankah sikap-sikap seperti ini adalah sikap seorang anak kecil yang selalu merasa lebih hebat dari orang lain? Yang hendak ditekankan oleh Paulus saat itu tentu saja adalah perubahan perilaku. Seorang yang sudah dewasa tentulah berkata-kata, merasa, dan berpikir secara berbeda dengan seorang anak kecil. Seorang yang dewasa rohani dengan semua karunia yang menyertainya tidak akan pernah merasa diri lebih hebat dari orang lain. Seorang yang dewasa rohani menyadari bahwa sia-sialah semua karunia bahkan imannya, jika ia tidak hidup dalam kasih.

Seorang yang dewasa rohani, hidup dalam kasih. Ia sabar menanggung segala sesuatu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang. Kehendak Tuhan bagi hidup kita adalah bertumbuh hingga mencapai kedewasaan penuh dalam Kristus di mana sifat kanak-kanak itu terus terkikis habis dan karakter Kristus semakin nampak dalam hidup kita. –SYS/www.renunganharian.net

DEWASA BERARTI APA PUN YANG DIPERKATAKAN, DIRASAKAN,
DAN DIPIKIRKAN SAMA SEKALI BERBEDA DENGAN PERILAKU SEORANG ANAK KECIL.