Sosialita Iman

Ketika kegemparan menyerbu seiring wabah pandemik di seputaran kuartal pertama 2020, banyak selisih atau gesek pendapat di kalangan komunitas kristiani sendiri. Topiknya seputar iman. Muncul tuduhan terhadap mereka yang meniadakan ibadah di gereja serta menggantinya dengan ibadah online sebagai penakut, tidak beriman. Tersebar ujaran, atas nama iman, tentang keyakinan diri bakal selamat meskipun banyak di sekitarnya yang rubuh. Rupanya pernyataan-pernyataan sejenis ini beranggapan yang penting “iman saya” dan “keselamatan saya”.

Siapa sanggup menilai iman, kecuali Tuhan? Yesus yang sanggup melihat hati manusia. Dosa dalam hati si lumpuh, dilihat-Nya (ay. 2). Tuduhan penghujatan yang terbisik hanya dalam hati, diketahui-Nya (ay. 3). Hati yang jahat bukan rahasia bagi-Nya (ay. 4). Namun, iman keempat penggotong temannya yang lumpuh demi memperoleh kesembuhan pun dikenali-Nya (ay. 2). Bagi Yesus, iman tidak berhenti hanya sebagai perkara pribadi-imanku, imanmu. Dia melihat iman serentak secara kolektif-iman mereka. Mengejutkan, bukan?

Ingat, iman itu berdimensi sosial! Bukan melulu tentang “saya”. Jika saya beriman namun serentak membahayakan sesama, itu egois. Anjuran menjaga jarak fisik dan menunda pertemuan-pertemuan sosial dalam rangka penanggulangan wabah bukan harus dilihat sebagai ketakutan. Sebaliknya, itu adalah sebentuk kesadaran, tanggapan, dan kepedulian akan keselamatan bersama. Beriman harus dimaknai secara tepat dengan hikmat, jangan sampai tak ada bedanya dengan sebentuk egoisme belaka. Tak perlu memamerkan iman, sebaliknya tunjukkanlah kepedulian. –PAD/www.renunganharian.net

IMAN MEMANG SUATU KARUNIA PRIBADI
NAMUN TAK PERNAH HANYA MENJADI URUSANKU SENDIRI.