Sikap Terhadap Kebenaran

Melalui keilmuan mereka, orang-orang majus tahu dan percaya bahwa seorang Raja Yahudi telah lahir. Mereka datang untuk menyembah Dia (ay. 2). Mereka menduga bahwa bayi itu lahir di istana raja di Yerusalem, pusat pemerintahan Israel, sehingga mereka datang ke sana. Kedatangan mereka-bersama berita yang mereka bawa-membuat seluruh Yerusalem terkejut (ay. 3). Mereka mendengarkan berita yang sama, namun sikap mereka sungguh berbeda.

Orang-orang majus mencari kebenaran dan menemukannya. Dengan sukacita, mereka menyembah Yesus dan memberikan persembahan yang berharga kepada-Nya (ay. 10-11). Para imam dan ahli Taurat Yahudi mencari kebenaran dan menemukannya melalui kitab Nabi Mikha (Mi. 5:1), namun mereka tidak berbuat apa-apa, selain melaporkan penemuan mereka kepada Herodes. Raja Herodes mengetahui kebenaran, kemudian berusaha membinasakannya. Ia percaya-walau pemahamannya sangat berbeda-bahwa bayi Yesus akan menjadi seorang raja, yang justru dapat menjadi ancaman bagi takhtanya di masa depan. Itulah sebabnya ia memerintahkan pembunuhan anak-anak berusia dua tahun ke bawah di kota Betlehem dan sekitarnya (ay. 16).

Ketika berhadapan dengan kebenaran, setiap orang harus bersikap. Ada yang menerimanya dengan sukacita, dengan enggan atau terpaksa. Ada yang bersikap apatis. Ada yang menolak, mencibir, bahkan berusaha membinasakannya. Semua pilihan tersebut tentu memiliki konsekuensi. Namun pilihan yang terbaik tentulah menerima kebenaran tersebut, serta mengikutinya. –HT/www.renunganharian.net

KEBENARAN ITU TIDAK PERNAH NETRAL.
JIKA KITA TIDAK BERADA DI PIHAKNYA,
BERARTI KITA MENENTANGNYA.