Sepenuh Hati

Sesuatu yang dikerjakan setengah-setengah akan menghasilkan hasil yang tidak memuaskan, malah mungkin gagal total. Bekerja dengan fokus yang terpecah hasilnya akan berantakan, tidak selesai, dan kacau. Untuk mendapatkan hasil yang baik, kita harus bekerja dengan sepenuh hati.

Bandingkanlah sikap Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun dengan sikap bangsa Israel dalam mengikuti Tuhan. Kebanyakan orang Israel mengikuti Tuhan tidak dengan sepenuh hati. Hal ini nampak dari mudahnya bangsa itu bersungut-sungut di hadapan Tuhan, gampang kehilangan rasa percaya kepada Tuhan dan berbalik setia dari Tuhan. Sedangkan Kaleb dan Yosua dicatat sebagai orang yang dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan. Mereka menambatkan iman kepada Tuhan dan janji-Nya yang hendak memberikan tanah perjanjian kepada bangsa Israel. Iman yang percaya bahwa Tuhan tidak pernah lupa akan janji-Nya sendiri. Sikap iman inilah yang membuat Kaleb dan Yosua melaporkan hasil pengintaian mereka secara positif dan berkeyakinan bahwa Tuhan sendiri yang akan memberikan tanah perjanjian itu kepada bangsa Israel.

Bagaimana sikap kita sendiri dalam mengikuti Tuhan? Apakah sepenuh hati atau masih setengah hati? Sepenuh hati berarti benar-benar memercayakan hidup hanya kepada Tuhan yang memelihara dan terus memberkati. Tidak ada lagi keraguan di dalam mengikuti Tuhan. Tidak ada lagi keraguan kepada Tuhan yang diyakini sanggup untuk menggenapi segala janji-Nya kepada umat-Nya. –AAS/www.renunganharian.net

IKUT TUHAN ITU HARUS DENGAN SEPENUH HATI, PARIPURNA,
DAN TUNTAS KARENA IMAN ITU AMIN.