Sepatu Pengertian

Malam kian larut. Antrean masih tiga orang lagi. Dalam hati saya menggerutu, petugas rumah sakit yang mengatur para penjenguk ini lamban sekali. Ketika giliran tiba, petugas-yang ternyata cacat mental-menyambut dengan suara terbata-bata sambil meminta maaf karena itu adalah hari pertamanya bertugas. Kejengkelan saya lenyap berganti perasaan iba. Sekaligus malu. Terbayang bagaimana perasaan petugas itu ditunggu orang dengan wajah mendongkol seperti saya.

Manusia cenderung gagal menempatkan diri pada posisi orang lain, lalu mudah menghakiminya. Tuhan Yesus mengajukan tantangan telak pada orang-orang yang menyeret perempuan yang dipermalukan karena kedapatan berzinah. Dia menantang mereka untuk menempatkan diri pada posisi perempuan itu, “Apakah aku bukan seorang berdosa juga? Lebih sucikah aku daripada dirinya?” Kerumunan itu bubar. Tak satu pun orang segarang beberapa menit sebelumnya. Satu per satu mereka pergi dengan rasa malu.

Bahasa Inggris mengenal ungkapan, “Jikalau kakimu mengenakan sepatuku, apa yang akan kaulakukan?” Betapa sering kita berucap dan bertindak tanpa menghiraukan perasaan orang lain. Kita menilai dan mencelanya tanpa mengerti kenapa ia berlaku begitu. Padahal, di balik semua sikap dan perbuatan manusia tersimpan banyak cerita. Bayangkan wajah kehidupan ini andaikan mendengar dan mengerti mendahului bicara dan sikap gampang menghakimi. Konflik pasti berkurang. Kesalahpahaman diperkecil. Permusuhan pun tak mudah beroleh tempat di antara kita. –PAD/www.renunganharian.net

NILAI SUATU BUKU MENGHENDAKI KITA MEMBACA SELURUH ISINYA;
PAHAMILAH SESEORANG SEUTUHNYA SEBELUM MENGHAKIMINYA.