Senjata yang Aneh

Pada 10 November 1945, tentara Sekutu bersama Belanda menyerang Surabaya. Bung Tomo menggerakkan semangat para pemuda untuk mempertahankan wilayah mereka. Karena keterbatasan senjata, sebagian pemuda maju ke medan tempur dengan bersenjata bambu runcing. Toh mereka mampu menghadapi penjajah yang bersenjata meriam. Muncullah slogan: “Hanya dengan bambu runcing, Indonesia mampu mengusir penjajah!”

Di Alkitab, ada satu pertempuran dengan senjata yang tidak kalah anehnya. Ketika Moab dan Amon menyerang Yehuda, Raja Yosafat dan rakyatnya melawan hanya dengan menggunakan puji-pujian (ay. 1-2, 20-21). Bambu runcing tentu masih bisa dikelompokkan sebagai senjata, tetapi bagaimana dengan puji-pujian, yang bahkan tidak bisa dipakai untuk melukai orang? Menariknya, ketika mereka mulai bersorak dan memuji Tuhan, kemenangan itu datang! Tuhan membuat penghadangan di depan umat-Nya sehingga pihak yang seharusnya menyerang mereka, malah saling membunuh (ay. 22-23). Rakyat Yehuda dapat mempertahankan wilayahnya tanpa melakukan perlawanan sebab Tuhanlah yang berperang bagi mereka (ay. 15, 24).

Kunci kemenangan bangsa Yehuda bukan terletak pada banyaknya tentara atau kuatnya persenjataan, melainkan kepada siapa mereka bersandar. Demikian juga jika ingin sukses, kita tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan, kecakapan, atau koneksi. Kita harus sepenuhnya mengandalkan Tuhan! Hanya Tuhan yang sanggup membawa kehidupan kita melewati berbagai tantangan menuju kemenangan demi kemenangan. –LIN/www.renunganharian.net

TIDAK ADA SUATU PERTEMPURAN YANG TERLALU SUKAR
UNTUK DITAKLUKKAN APABILA TUHAN ADA DI PIHAK KITA!