Saya Egois?

Sifat egois adalah penyakit rohani kronis sejak manusia jatuh dalam dosa. Manusia memberontak kepada Allah karena egois. Pembunuhan Kain terhadap adiknya adalah bukti nyata egoisme. Faktanya, tindak kejahatan kerap terjadi disebabkan seseorang yang tidak mampu menguasai egonya.

Raja Ahab adalah salah satu orang yang hidupnya dijajah dan dirusak oleh egoismenya. Kedudukan sebagai Raja tidak membuatnya menjadi orang yang menjaga kehormatan diri, tapi justru egoismenya makin besar. Apa saja yang menjadi kesukaannya harus didapatkan. Ketika keinginannya ditolak oleh Nabot, hal itu menjadi masalah besar baginya, bukan karena dia dirugikan kalau tidak mendapatkan kebun tersebut, tetapi karena egonya tidak bisa menerima penolakan Nabot. Sifat egoisnya menuntut kematian Nabot, dengan begitu tercapailah keinginannya.

Sejenak, mari kita mengingat kembali apa yang pernah dikatakan Yesus tentang syarat-syarat seseorang yang mau mengikut Dia. Ia harus mampu menyangkal dirinya, memikul salibnya, lalu mengikut Dia! Dan salah satu bentuk penyangkalan diri ini adalah kebersediaan diri kita untuk menaklukkan sifat egois dalam diri kita. Ketika kita mampu menaklukkan egoisme, maka segala bentuk perselisihan pun akan mudah diselesaikan. Bukankah hubungan dengan pasangan dalam rumah tangga akan terjaga baik ketika masing-masing bersedia mengalahkan egonya? Begitu pun dalam berelasi dengan sesama. Ketika egoisme ditaklukkan, maka roh iri hati dan kecemburuan tidak lagi mendapat tempat di hati kita. –SYS/www.renunganharian.net

KETIDAKMAMPUAN KITA MENGALAHKAN SIFAT EGOIS
AKAN BERAKIBAT HAL YANG MERUSAK.