Sadar akan Kematian

Bahasa Latin mengenal ungkapan Memento mori, artinya: Ingatlah, Anda akan mati! Kenapa mesti diingatkan? Bukankah telah jelas bagi semua orang, dirinya akan mati? Rupanya tidak. Itu sebabnya muncul peringatan ini. Sebab, ternyata banyak orang berlagak seolah-olah dirinya tak akan pernah mati. Hidupnya ceroboh bukan kepalang, segalanya serba kelewat batas, angkuh, egois, dan jahatnya minta ampun-seperti seakan-akan dirinya hidup terus.

Salah seorang penjahat yang disalibkan di dekat Yesus merupakan contoh ekstrem yang mengagetkan. Bagaimana tidak? Palang salib siap merenggut jiwanya. Napasnya tersengal-sengal meregang nyawa. Ajal siap menjemput. Bukit Tengkorak menebar bau kematian yang mencekat di hidungnya. Alih-alih menyadari akan kematiannya ia malah ikut-ikutan menghujat Yesus (ay. 39). Siapa tidak tergoda untuk berkomentar, “Sungguh tidak tahu diri!”

Apakah kita bekerja terlalu keras tanpa menghiraukan kesehatan? Atau sebaliknya bermalas-malasan saja seperti tidak akan menjadi tua? Atau kita terlalu sibuk dan enggan melayani Tuhan seakan-akan kesempatan akan selalu ada? Jika ya, waspadalah! Kita cenderung mengabaikan fakta kematian apabila berkenaan dengan diri sendiri. Padahal ongkosnya terlalu mahal. Yaitu ketidak-siapan menyambut kematian sekaligus untuk menjalani kehidupan dengan baik. Memento mori! –Hagai/www.renunganharian.net

SEBERAPA BAIK DAN BIJAKSANA KITA HIDUP DI DUNIA
DITENTUKAN OLEH SEBERAPA SADAR KITA BAHWA HIDUP INI AKAN BERAKHIR.