Roti Dua Tangkup

Anda pasti pernah mencicipinya. Dua tangkup roti diletakkan bersusun, di antaranya dioleskan selai atau mentega kemudian disisipkan apa saja sesuai selera penikmat. Entah keju, kacang atau coklat. Bisa pula kombinasi daging, ikan, telur, dan sayur. Tentu saja selipan itu yang menentukan lezatnya, bukan?

Kitab Pengkhotbah mengusung perenungan tentang kehidupan manusia yang disebutnya sebagai “dan debu kembali menjadi tanah seperti semula” (ay. 7). Sebagaimana dikisahkan dalam peristiwa penciptaan manusia, demikianlah manusia (Kej. 2:5-7). Hidupnya sementara. Dibatasi oleh awal dan akhir yang sama-sama ditandai kelemahan. Berada di antara sekat kelahiran dan kematian. Justru karenanya, ada hal yang mendesak untuk dilakukan. Yaitu mengoptimalkan waktu antara kedua sekat itu selagi kekuatan masih ada. Mengoptimalkan masa muda dengan mengingat dan berkarya bagi kebesaran nama Sang Pencipta (ay. 1). Sebab kepada-Nyalah kelak kita akan menghadap kembali (ay. 7).

Hidup kita mirip roti tangkup. Kelahiran dan kematian ialah “dua tangkup” bersusun yang mengapitnya. Namun, yang terpenting adalah “isi” yang terselip di antara kedua tangkup itu. Dan, itu berpulang pada kita untuk memberinya “isi”. Iman, keyakinan, kesungguhan, kerja keras, semangat, ketekunan, kreativitas, hasil karya, dan sumbangsih kitalah yang menentukan “lezat tidaknya” kehidupan yang dititipkan kepada kita untuk dirasakan buah nikmatnya oleh sekeliling kita ini. –PAD/www.renunganharian.net

LAHIR DAN MATI KITA TAK BERDAYA MENGATURNYA,
PERAN KITA ADA PADA RUANG DI ANTARA KEDUANYA.