Respons yang Berbeda

Ada yang berbeda dengan respons keluarga Ibu Mien ketika lansia 70 tahun itu harus kembali dirawat di rumah sakit. Anak-anaknya merespons dengan lebih tenang, bahkan dapat mendampingi Ibu Mien dengan sangat baik. Respons berbeda mereka tunjukkan dua tahun sebelumnya, ketika Ibu Mien juga dirawat di rumah sakit. Perubahan sikap hati mereka bahkan mampu menularkan semangat dan sukacita bagi para dokter dan perawat setiap kali mendatangi kamar Ibu Mien dirawat. Keluarga ini pun bersyukur karena dapat memakai kesempatan dirawatnya orang tua mereka untuk dapat menjadi berkat bagi orang lain.

Ketika Allah izinkan Ayub mengalami tragedi kehidupan, ia memilih menghadapi semua itu dengan tetap memuji Allah. Dengan kesadaran penuh, yang mungkin datang dari pengenalannya akan Allah, menghasilkan perkataan: “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” Respons positif Ayub bahkan terlihat ketika istrinya menyuruhnya mengutuki Allah supaya ia dibinasakan oleh murka Allah, yakni dengan tegas menolak nasihat buruk tersebut (Ayb. 2:10). Sebagai ciptaan sekaligus umat Tuhan, perlu adanya kesediaan untuk menerima segala sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi, entahkah untuk hal yang baik atau buruk.

Dua orang dapat mengalami peristiwa yang sama, tetapi respons yang muncul bisa sangat berbeda. Semuanya berpulang pada keputusan kita, yang didasari oleh pemahaman dan pengenalan kita akan Allah. Bagaimana respons kita terhadap hal-hal yang tidak kita inginkan, tetapi Tuhan izinkan terjadi? –Obaja/www.renunganharian.net

RESPONS TERHADAP PERISTIWA KEHIDUPAN MENUNJUKKAN TINGKAT PENGENALAN KITA AKAN ALLAH.