Quo Vadis?

Quo vadis adalah kalimat bahasa Latin yang berarti: “Ke mana engkau pergi?” Menurut tradisi gereja, ucapan ini dikatakan oleh Petrus kepada Yesus Kristus ketika ia melarikan diri dan bertemu dengan Tuhan. Ia meninggalkan misi di Roma karena berisiko dirinya mengalami penyaliban. Tuhan Yesus menjawab, “Aku hendak kembali ke Roma untuk disalibkan kembali” (Eo Romam iterum crucifigi). Petrus pun menyadari panggilannya dan ia segera berbalik kembali ke Roma. Di sana ia kemudian disalibkan dan menjadi martir.

Dari pengalaman tersebut, Petrus membagikannya kepada orang-orang Kristen yang tersebar dan sedang mengalami tekanan dan penganiayaan karena kepercayaan mereka kepada Kristus. Petrus menyadari kelemahannya dan sekaligus semakin mengakui pemeliharaan Allah di tengah kesulitan yang ia hadapi. Semua ketakutan, kekhawatiran, dan keprihatinan harus diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Ia mendorong mereka untuk rela dan tahan menderita, sambil menyadari bahwa penderitaan mereka merupakan ujian apakah mereka percaya kepada Kristus. Mereka juga harus yakin bahwa mereka akan dibalas oleh Tuhan pada saat Yesus Kristus datang kembali.

Menyerahkan segala kekhawatiran kepada Kristus adalah tindakan yang mempunyai arti: bahwa kita mengakui kelemahan dan kekurangan kita. Bukan berarti kita menyerah begitu saja dan meninggalkan tanggung jawab kita. Sebaliknya, kita memberikan diri kita dalam pemeliharaan-Nya yang akan menguatkan kita. –RES/www.renunganharian.net

PERCAYA PADA PENYERTAAN TUHAN AKAN MENGHILANGKAN
SEGALA KEKHAWATIRAN DALAM HIDUP.