Puas dalam Segala Keadaan

Tidak sedikit orang yang menjadi sombong manakala kelimpahan menghampirinya. Memandang rendah orang lain dan merasa tidak lagi membutuhkan mereka, serta mengukur segala sesuatu dengan uang. Sebaliknya, ketika masa sukar menghampiri orang menjadi mudah menyerah, berputus asa bahkan menyalahkan Tuhan.

Paulus mengakui kebaikan jemaat Filipi yang mengirimkan pemberian kepadanya saat ia menjadi tahanan di Roma. Jemaat Filipi tidak hanya mengurusnya saat ia ada bersama mereka, melainkan juga saat Paulus berangkat dari Makedonia ke Tesalonika. Namun hal ini dilakukan Paulus bukan karena ia takut kekurangan, atau supaya jemaat Filipi terus mengirimkan pemberian kepadanya. Paulus telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Paulus sering dibelenggu, ditahan dan berkekurangan. Tetapi ia belajar menyesuaikan pikirannya dengan kondisi hidup, sehingga mampu berpikir tenang dalam melewati segala macam keadaan.

Inilah pelajaran yang dapat kita ambil dari sikap Paulus! Pertama, mampu menyesuaikan diri dengan kesengsaraan. Dengan demikian sekalipun terhina dan berkekurangan kita tidak dikuasai oleh godaan yang menjadikan kita lupa akan penghiburan dalam Tuhan, tidak memercayai pemeliharaan-Nya, atau mencari jalan pintas demi mendapatkan kepuasan diri. Kedua, mampu menyesuaikan diri dengan kesejahteraan. Dengan demikian di tengah kelimpahan kita tidak menjadi sombong, lupa diri, merasa aman dan berfoya-foya. Dalam segala keadaan, tetaplah kita harus memandang Tuhan sebagai sumber kepuasan. –EBL/www.renunganharian.net

TUHAN SELALU ADA DALAM KEKURANGAN MAUPUN KELIMPAHAN,
JANGAN SAMPAI KITA MELUPAKANNYA!