Pribadi-Nya atau Roti-Nya?

Sewaktu mengunggah foto atau status di sosial media, pernahkah kita memusingkan berapa jumlah teman yang menyukainya? Faktanya, beberapa orang merasa sangat bahagia ketika mendapatkan ratusan, bahkan ribuan “jempol”. “Aku punya banyak penggemar!” kata mereka bangga.

Dikelilingi banyak penggemar rupanya tidak membuat Yesus terkesima. Tidak tanggung-tanggung, Yesus bahkan mengungkapkan maksud tersembunyi mereka dengan mengatakan, “Kamu mencari Aku… karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang” (ay. 26). Roti menunjuk pada berkat jasmani seperti kekayaan, kesehatan, dan keberhasilan. Bukannya menginginkan pribadi-Nya, mereka mencari Dia hanya demi mengejar roti. Mereka bahkan meminta Yesus agar menyediakan roti itu senantiasa (ay. 34). Pertanyaannya: “Tanpa roti, masihkah mereka tertarik mencari Yesus?” Kepada setiap orang yang menginginkan roti, Yesus menjawab: “Akulah roti hidup…” (ay. 35). Bersama Dia, ada jaminan bahwa kita tidak akan menderita kelaparan. Tanpa mengetahui maksud perkataan Yesus, orang Yahudi menjadi bersungut-sungut (ay. 41-42). Mereka tidak menyadari bahwa saat itu Yesus justru sedang menunjukkan bahwa roti berkat yang mereka cari ada pada diri-Nya.

Apa alasan kita mengikut Yesus: pribadi-Nya atau roti berkat-Nya? Jika jawabannya adalah roti berkat-Nya, kita perlu belajar mengasihi Dia lebih lagi. Jangan tertipu! Kenikmatan roti memang tampak menggiurkan, tetapi hanya bersama Yesus, Sang Penyedia Roti, kita bisa senantiasa kenyang. –LIN/www.renunganharian.net

BERSAMA YESUS, KITA DAPAT MENGALAMI SUKACITA YANG
JAUH LEBIH BESAR DARIPADA SEKADAR MENIKMATI ROTI BERKAT-NYA.