Persembahan Terbaik

Persembahan kepada Tuhan adalah semata-mata karena syukur kita atas keselamatan, pemeliharaan hidup dan segala berkat yang dikaruniakan-Nya. Bukan untuk menyucikan harta yang dimiliki, apalagi sebagai bentuk kebanggaan dan kesombongan.

Penulis Injil Matius mencatat kritikan Tuhan Yesus yang amat keras terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi oleh karena kemunafikan yang mereka tampilkan. Mereka menuntut orang lain untuk membayar persepuluhan, bahkan menikmatinya. Sementara pada saat yang sama, mereka bertindak tidak benar, tidak adil dan penuh dengan kemunafikan. Tuhan Yesus mengibaratkannya seperti cawan dan pinggan yang bersih di sisi luar, tetapi kotor di dalam (ay. 25). Juga seperti orang yang menyingkirkan nyamuk dalam minuman karena takut terminum, tetapi justru unta yang ditelan (ay. 24), dan seperti kuburan yang dilabur cat putih di luar sementara di dalamnya berisi tulang belulang (ay. 27). Yang terpenting bukan sekedar memberi persembahan, tetapi justru hidup yang harus berlaku benar dan adil, tanpa ada noda kemunafikan.

Oleh karena itu, persembahkanlah yang terbaik yaitu hidup ini sendiri dan juga persembahan syukur lain yang berasal dari hasil kerja dan usaha yang benar, adil, dan jujur, bukan dari hasil menipu, memanipulasi, korupsi atau perbuatan melawan hukum, tidak benar dan tidak adil. Persembahkanlah syukur kita dengan hidup yang sungguh-sungguh melakukan kebenaran, keadilan, kejujuran dan bukan kemunafikan berbalut kesalehan semu. –AAS/www.renunganharian.net

PERSEMBAHAN SYUKUR TERBAIK ADALAH HIDUP INI SENDIRI
YANG MELAKUKAN KEBENARAN DAN KEADILAN, BUKAN KEMUNAFIKAN.