Percayai Hati-Nya

Pada 1989 Babbie Mason mempopulerkan lagu rohani yang syairnya ia tulis bersama Eddie Carswell atas inspirasi dari ucapan pengkhotbah Inggris ternama, Charles Spurgeon. Sebagian liriknya berbunyi: Allah terlampau berhikmat untuk berbuat kesalahan. Allah terlampau baik untuk berbuat yang buruk. Ketika ‘kau tak mengerti, ketika ‘kau tak melihat rencana-Nya, ketika ‘kau tak dapat melacak jejak karya-Nya, percayai hati-Nya.

Ketika melukiskan pribadi Yesus, Matius berupaya menerangkan bagaimana hati-Nya. Hati Yesus digerakkan oleh belas kasihan kepada orang banyak yang di mata-Nya bagaikan domba-domba tak bergembala (ay. 36). Hati-Nya tersentuh melihat kaum tertindas serta terlantar akibat ulah pemimpin-pemimpin “serigala” yang tidak mengenal belas kasihan. Menariknya, untuk kata belas kasihan itu, Matius memakai kata yang maknanya “isi perut”-orang Jawa menyebut jeroan. Maksudnya, perasaan atau getaran hati itu betul-betul keluar dari dalam. Asli. Murni. Tidak dibuat-buat. Seperti itulah hati Yesus. Tak perlu diragukan. Sungguh dapat dipercayai-di situ cuma ada belas kasihan.

Jalan hidup kita tak selalu lancar, tenang dan terang. Apa yang terjadi tak selalu mudah dicerna dan dipahami. Bahkan bagi sebagian orang belokannya terlalu menikung, tanjakannya terlalu tajam. Lorongnya terlampau gelap. Meskipun sebagai pengikut Tuhan, tak selalu kita mengerti sedang dibawa ke mana. Apa rencana-Nya? Di mana pertolongan-Nya bisa ditemukan? Ketika kita sedang disergap pelbagai pertanyaan serupa, seruan lagu Trust His Heart untuk memercayai hati Tuhan sungguh tepat! –PAD/www.renunganharian.net

DI TENGAH GELOMBANG HIDUP YANG BERGEMURUH
HATI TUHAN ADALAH PANTAI PALING AMAN UNTUK BERLABUH.