Perbedaan

Kehidupan rumah tangga Rohan dan Rina (nama samaran) terus diguncang konflik. Mereka kerap berselisih tentang bagaimana masing-masing tidak mendapatkan reaksi yang tepat dari pasangannya. Ketika mendengar atau menghadapi situasi A, Rina berharap suaminya bereaksi dengan cara tertentu. Ternyata lain. Begitu pun sebaliknya. Ekspektasi demi ekspektasi yang tak terpenuhi membuat frustrasi.

Jemaat di kota Roma terancam kerukunannya akibat perselisihan berkepanjangan antara dua kelompok. Atas kasus makanan yang dipersembahkan pada berhala, masing-masing kelompok menantikan reaksi yang diharapkan. Dan, ketika hasilnya lain, mereka saling menyerang. Yang sini menghakimi, sedang yang sana menghina (Rm. 14:10). Sebenarnya, kalau masing-masing mampu bertanggung jawab kepada Tuhan (Rm. 14:6-8), setiap pihak layak bereaksi dengan caranya sendiri. Beralaskan sikap Kristus kepada kita, Paulus menasihatkan supaya mereka lebih saling menerima daripada saling menyerang (ay. 7). Barulah kerukunan akan tercipta (ay. 5).

Tanpa disadari kita sering berharap orang lain bereaksi tepat seperti yang kita kehendaki. Padahal, ada banyak faktor yang menentukan kenapa ia bereaksi begitu. Tipe kepribadian. Pandangan. Kebiasaan. Keyakinan. Pengalamannya. Pengasuhan dan pendidikan yang diterima. Bahkan menurut temuan ilmiah mutakhir tentang otak manusia, setiap orang bereaksi berbeda akibat struktur dan cara kerja otak yang memang tidak sama. Jadi, kenapa kita harus memaksakan apa yang memang diciptakan Tuhan berbeda? –PAD/www.renunganharian.net

ADA SAATNYA KETIKA PERBEDAAN TAK DAPAT DISATUKAN
YANG HARUS KITA LAKUKAN ADALAH SALING MENERIMA PERBEDAAN ITU.