Pengampunan Semu

Gejala menggerutu di belakang banyak disebabkan oleh ketidakjujuran. Kita tak cukup jujur di depan, maka kita menyisakan omelan di belakang. Ketika berhadap-hadapan kita memberi kesan baik-baik saja padahal sesungguhnya tidak. Yang kita ucapkan tidak sama dengan yang kita pikirkan dan rasakan. Dengan kata lain, kita berbasa-basi di muka. Sedangkan di belakang kita masih menyimpan gumpalan dendam atau ketidakpuasan.

Sungguh berbeda dengan Yusuf. Setelah disengsarakan begitu rupa oleh saudara-saudaranya, dirinya tidak menuntut balas ketika telah berkuasa dan berkesempatan untuk itu. Ia seorang pengampun tulen. Namun, serentak ia seorang yang jujur. Perlakuan jahat yang ia maafkan itu tidak diringankannya dengan berkata, “O tidak apa-apa, lupakan saja itu.” Di hadapan mereka, ia tetap menyebut perbuatan itu “jahat” (ay. 20). Jahat tetap saja jahat. Pengampunan tidak mengobral diskon padanya. Baginya, mengampuni bukan berarti meringankan kejahatan yang dilakukan. Mengampuni adalah tidak membalas kejahatan itu, karena percaya bahwa Allah lebih tahu bagaimana memakai kejahatan itu demi melayani rencana-Nya.

Jangan keliru memahami tindakan mengampuni. Jangan membuatnya jadi murahan akibat kita segan berkata jujur. Jangan membuat kesalahan jadi kabur. Tak perlu buru-buru mengatakan, “O tidak apa-apa kok, saya sudah melupakannya.” Menjadi pengampun tidak harus membuat kita segan mengakui jahatnya perlakuan buruk terhadap kita. Yang benar ialah menolak untuk didikte olehnya sampai merasa pahit dan bereaksi membalas, sebab kita memilih untuk percaya pada hikmat dan kuasa Tuhan yang sanggup mendatangkan kebaikan kendati kejahatanlah yang diperbuat terhadap kita. –PAD/www.renunganharian.net

PENGAMPUNAN ITU MEMBERI ANUGERAH KEPADA ORANG YANG BERSALAH,
BUKAN MERINGANKAN KESALAHANNYA.