Pemimpin yang Tegas

Salah satu aspek penting dalam sebuah kepemimpinan adalah bersikap tegas. Penerapan sikap tegas seorang pemimpin tidak hanya berlaku di dunia kerja sekuler, tetapi dalam hal rohani pun dibutuhkan sebuah kepemimpinan yang tegas. Tanpa pemimpin yang tegas, masuknya dosa ke dalam kehidupan umat Tuhan sulit dicegah.

Nehemia menyaksikan bahwa kemerosotan iman telah melanda umat Tuhan. Praktik korupsi membuat orang-orang Lewi dan para penyanyi tidak menerima sumbangan dan harus pergi mencari makan di ladang masing-masing. Peraturan Sabat sering dilanggar. Terjadi pula kawin campur dengan perempuan asing. Nehemia pun bereaksi! Ia bersikap tegas untuk memulihkan ketaatan umat Allah terhadap perjanjian yang telah dibuat dengan Allah. Nehemia membuang barang-barang Tobia yang berada di rumah Allah. Ia mengatur agar persembahan tidak lagi diselewengkan (ay. 12, 13). Ia memulihkan peraturan Sabat (ay. 19-21). Ia juga menghukum mereka yang menyelenggarakan kawin campur dengan perempuan-perempuan asing (ay. 25-28).

Firman Tuhan menasihati kita: teguran yang mendidik itu jalan kehidupan (Ams. 6:23). Sebagai seorang pemimpin rohani, kita harus berani mengambil risiko dengan bertindak tegas bila pengaruh dosa sudah mulai menyerbu orang-orang yang kita pimpin. Seorang pemimpin yang bertanggung jawab tentu tidak akan bisa menerima orang-orang yang dipimpinnya terperosok kepada jalan yang salah. Sebab itu sikap tegas diperlukan untuk menyadarkan dan membawa mereka kepada jalan yang benar. –SYS/www.renunganharian.net

SIKAP TEGAS DIPERLUKAN UNTUK MENYADARKAN
DAN MEMBAWA ORANG-ORANG KEPADA KEBENARAN.