Pemimpin Pilihan Allah

Ketika bangsa-bangsa di dunia ini menjalani proses pergantian kepemimpinan, sering hal ini menjadi masa yang begitu menakutkan. Kerap kali proses pergantian tidak berjalan damai, hingga berujung dengan perang dan pertumpahan darah.

Kejadian pasal 47 menjelaskan tentang berakhirnya kepemimpinan Yakub sebagai pemimpin (bapa) Israel dan dipilihnya Yusuf sebagai penerusnya. Ketika itu Israel bukan lagi sebuah keluarga kecil namun sudah menjadi cikal bakal munculnya sebuah bangsa pilihan Allah yang besar. Mengapa Yakub memilih Yusuf? Bukankah Ruben, si anak sulung itu, lebih berhak menyandang kepemimpinan? Mengapa bukan Yehuda yang jelas memiliki bakat seorang pemimpin? Beruntung anak-anak Israel itu tunduk kepada Yakub sehingga tidak terjadi protes atau pertumpahan darah. Sikap tunduk itu terjadi karena Yakub telah menanamkan kepada anak-anaknya bahwa pemimpin tertinggi mereka adalah Allah sendiri. Dan Allah pula yang telah menetapkan Yusuf menjadi pemimpin Israel menggantikan Yakub. Allah pulalah yang mempersiapkan Yusuf untuk memelihara kehidupan bangsa pilihan-Nya itu.

Dari kepemimpinan Yusuf kita belajar: Pertama, tidak ada seorang pun yang hidupnya berarti tanpa penyertaan Tuhan. Kedua, sikap seorang pemimpin sejati adalah tunduk kepada Tuhan. Penundukan diri berarti kita memilih untuk bergantung dan mengikuti kehendak-Nya. Seorang pemimpin yang mengandalkan kekuatannya sendiri pasti akan jatuh. Tetapi penundukan diri menjadikan Tuhan leluasa berkarya melalui hidupnya. –SYS/www.renunganharian.net

TUHAN MEMILIH ORANG-ORANG YANG MAU TUNDUK KEPADA-NYA,
BUKAN MEREKA YANG MERASA DIRI BISA.