Pemberian Terakhir

Saya tak pernah lupa dengan teladan yang diberikan oleh Franky, seorang pemimpin kelompok sel, ketika kami masih muda. Dalam kondisi uang yang cukup hanya untuk sekali makan, seorang pemuda mengeluh karena uangnya habis. “Tak ada lagi uang buat makan malam, Kak!” ujar pemuda itu. Tanpa banyak berpikir, Franky lalu mengajaknya ke warung tenda, lalu makan berdua dengan lauk sederhana. “Yang penting malam ini kamu makan, besok kita pikirkan solusinya, ” ucap Franky.

Kitab Suci mencatat pergumulan yang dialami seorang janda di Sarfat. Dalam kondisi sangat terbatas, dimana tepung dan minyak di rumahnya hanya cukup untuk sekali makan, Elia meminta roti. Janda tersebut bisa beralasan, “Minta saja orang lain, nanti kami tidak bisa makan dengan kenyang kalau sebagian diberikan kepada Anda.” Namun, janda tersebut lebih memercayai perkataan Elia daripada menuruti pertimbangan logikanya. Hasilnya, ia dan anaknya bukan hanya bisa makan kenyang satu kali, melainkan terpelihara selama beberapa waktu. Tepat seperti perkataan Elia, sang janda itu mengalami mukjizat: tepung dan minyak yang tak habis-habis!

Terkadang Tuhan izinkan umat-Nya mengalami kondisi dan situasi seperti janda di Sarfat itu. Dalam kondisi terbatas, bahkan kekurangan, orang cenderung “cari aman” demi kebutuhannya terpenuhi. Namun di hadapan Tuhan, ketika ia melihat ada kerelaan untuk menaati firman-Nya dan mendahulukan kepentingan orang lain, maka Ia takkan segan untuk memberkati kehidupan orang tersebut dengan limpahnya. –GHJ/www.renunganharian.net

DALAM HATI YANG PEDULI KEPADA SESAMA,
ADA TANGAN YANG TERULUR UNTUK MEMBERI.