Pelayan yang Depresi

Elia sebagai nabi Tuhan mengalami depresi yang cukup berat sehingga ia harus melarikan diri ke padang gurun. Ia berjalan sehari perjalanan jauhnya dan ia ingin mati saja. Elia mengalami tekanan dan kelelahan secara fisik, mental dan emosi. Padahal sebelumnya ia menjadi pahlawan dengan mengalahkan 450 nabi Baal di gunung Karmel. Karena kepahlawanannya itu ia mendapat ancaman dari Ratu Izebel. Elia pun melarikan diri dalam ketakutan dengan perasaan gagal, kecewa dan hampa.

Ia merasa bahwa apa yang telah ia lakukan sia-sia saja dan tidak membawa perubahan dalam kehidupan umat Israel padahal ia telah berjuang segiat-giatnya. Saat Tuhan bertanya kepadanya, “Apa kerjamu di sini, Elia?” Elia menjawab dengan kemarahan, kekecewaan, keputusasaan, dan kehilangan harapan. Elia menjawab, “Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan mata pedang, hanya aku sendiri yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku” (ay. 9-14).

Depresi dapat dialami oleh siapa pun, termasuk hamba Tuhan yang bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan. Hal ini menjadi bukti bahwa kita tak bisa melakukan segala sesuatunya dengan kekuatan dan kemampuan sendiri. Kemampuan kita terbatas. Kita tidak bisa melayani Tuhan seorang diri. Berjalan bersama-sama dalam melayani Tuhan akan membebaskan kita dari depresi, kekecewaan dan mengasihani diri berlebihan. –LL/www.renunganharian.net

MEMILIKI PERASAAN BAHWA SAYA HEBAT MEMBAWA KITA MELAKUKAN SEGALA SESUATUNYA SENDIRI, TANPA KESADARAN AKAN KETERBATASAN YANG DIMILIKI AKAN MEMBUAT KITA DEPRESI.