Pelarian yang Tepat

Ke mana larinya orang-orang yang tengah bergumul? Media sosial. Ya, media sosial sanggup menggeser keberadaan Tuhan. Media sosial menjadi pelarian yang sangat diminati untuk berkeluh kesah. Banyak orang memanfaatkannya untuk melampiaskan emosi yang tengah dirasakan. Ketika tengah berselisih dengan orang lain misalnya, seseorang akan menuliskan ungkapan hati, umpatan, sindiran, pembelaan diri hingga kutukan melalui status media sosial.

Hana tengah mengalami pergumulan yang berat, hingga tak dapat dihibur oleh siapa pun. Ia tidak dapat mengandung. Padahal, dalam budaya patriarkat Israel tidak melahirkan anak merupakan sebuah aib. Kemandulan dipandang sebagai hukuman Tuhan atas diri wanita. Tidak berhenti sampai di situ, Penina madunya masih menambah penderitaan Hana dengan menyakiti hatinya. Namun Hana tidak membalas sedikit pun perlakuan Penina dengan tindakan yang jahat. Hana mengadukan penderitaannya kepada Tuhan. Ia menyatakan keteguhan imannya dengan tekun berdoa.

Dalam menjalani hidup setiap orang pasti pernah dihadapkan pada suatu pergumulan. Bukan tidak mungkin orang-orang di sekitar kita pun menambah berat beban yang tengah kita pikul. Mengejek, menghina, menghakimi dan melakukan segala macam bentuk tindakan yang menyakitkan sehingga pergumulan kita semakin berat. Namun pilihan tetap ada di tangan kita: terpancing dan membalas kejahatan mereka dengan tindakan yang lebih jahat, atau menjaga iman dengan datang kepada Tuhan dan mengadukan segala keluh kesah kita hanya kepada-Nya. –EBL/www.renunganharian.net

MEMBALAS KEJAHATAN MEMBERI KEPUASAN SESAAT, DATANG DAN
BERLINDUNG DALAM TUHAN MENDATANGKAN SELAMAT DAN BERKAT.