Pedang Menjadi Mata Bajak

Di masa Nabi Mikha, bangsa Israel hidup dalam kemerosotan moral. Para pemimpin agama dan negara sama bobroknya. Semua mencari keuntungan sendiri. Tidak ada keadilan. Mereka hidup dalam berbagai dosa dan pelanggaran. Semua ini berasal dari perilaku mereka yang berpaling dari Tuhan, dengan mengabaikan firman dan ketetapan-Nya. Akibatnya, Tuhan murka kepada mereka. Dia akan mendatangkan penghukuman bagi umat-Nya, dengan mengizinkan bangsa lain menghancurkan negeri mereka.

Syukurnya, berita Mikha bukan hanya tentang celaka dan penghukuman. Tapi juga seruan pertobatan dan pengharapan. Di tengah kekacauan nasional, Mikha berbicara tentang masa depan, di mana Tuhan akan memulihkan segala sesuatu. Raja Damai dari keturunan Daud akan lahir dan memerintah dengan adil serta penuh kebenaran. Pada saat itu, bangsa-bangsa akan berduyun-duyun datang kepada Tuhan dan hidup menaati-Nya. Mereka akan menempa pedang dan tombak mereka menjadi mata bajak dan pisau pemangkas, dari alat kekerasan yang merenggut kehidupan menjadi alat pertanian yang menyokong kehidupan. Dan semua orang akan menikmati shalom (ay. 4).

Pesan Mikha ini memang tentang nubuatan di masa depan, namun tidak berarti ia mengabaikan aspek kekinian. Ia mengajak supaya mereka yang telah mengenal Tuhan, juga menunjukkan buah pertobatan, kini dan di sini. Demikian juga dengan kita. Tanda pengenalan kita akan Allah hendaknya menghasilkan damai dan perilaku hidup yang benar, dalam relasi kita dengan sesama. –HT/www.renunganharian.net

PENGENALAN YANG BENAR AKAN ALLAH
PASTI MENGHASILKAN PERUBAHAN HIDUP YANG NYATA.