Nyaris Mati

Dalam dunia ini ada orang-orang yang pernah mengalami dirinya nyaris mati. Terhindar dari kecelakaan maut. Pulih dari penyakit terminal stadium lanjut. Selamat dari tengah-tengah bencana tsunami. Dan lain sebagainya. Satu hal yang pasti, mereka pasti siap menceritakan pengalaman ekstrem yang tak terlupakan itu.

Paulus pernah menceritakan pengalaman ketika dirinya nyaris mati dirajam-tindakan eksekusi pelemparan batu oleh kaum Yahudi (2Kor. 11:25). Kejadiannya terekam dalam bacaan kita hari ini. Diseret ke luar kota, disangka telah mati (ay. 19). Padahal belum lama berselang ia dan Barnabas nyaris disembah sebagai titisan dewa (ay. 11-13). Dari ekstrem satu bergerak ke ekstrem lainnya. Ternyata Paulus bangkit dan melanjutkan pekerjaannya. Ada catatan menarik di sini, yang menguatkannya untuk bangkit ialah sekelompok murid-muridnya (ay. 20). Perlakuan ekstrem kiri kanan dari massa tak memengaruhi dirinya, namun kehadiran murid-muridnya memberi dorongan dahsyat pada semangat hidupnya.

Selain Tuhan, setiap orang membutuhkan hadirnya orang lain demi tetap memberinya alasan untuk hidup. Jangan bilang tidak, itu fakta. Yang penting, jangan sampai kita salah pilih orang. Jangan sekali-kali menggantungkan alasan kita untuk tetap hidup pada perlakuan publik (masyarakat kebanyakan). Publik tak dapat dipercaya-dari ekstrem satu dalam sekejap mereka bisa bergerak ke ekstrem lain. Milikilah orang-orang terkasih dan terdekat dalam hidup kita-keluarga, para sahabat, atau anak didik-yang kehadiran mereka sanggup memompa semangat hidup kita. –PAD/www.renunganharian.net

MENGINGAT ADANYA PARA KEKASIH TERDEKAT YANG MASIH MEMBUTUHKAN KITA,
PASTI MEMBANGKITKAN SEMANGAT HIDUP KITA.