Noblesse Oblige

Awalnya sebutan “Kristen” digunakan sebagai ejekan kepada para pengikut Kristus oleh mereka yang tidak percaya, artinya ialah “Kristus kecil”. Uniknya, orang-orang percaya justru menjadikan ini sebagai nama mereka. Di Antiokhialah mereka disebut Kristen untuk pertama kali, satu kota berjarak sekitar 500 km dari Yerusalem. Ketika penganiayaan kepada para pengikut Kristus abad pertama meningkat, kota ini menjadi salah satu pelarian mereka (ay. 19). Menariknya, mereka tetap memberitakan Injil sehingga sejumlah besar orang menjadi percaya (ay. 21, 24).

Orang-orang Kristen ini tahu bahwa Kristus adalah nama yang mulia dan berkuasa menyelamatkan, sehingga mereka memuliakan Dia melalui perilaku dan pemberitaan mereka. Sikap ini sejalan dengan apa yang disebut dengan Noblesse Oblige (dibaca: noblesy oblisy), ungkapan bahasa Perancis yang artinya “nama yang luhur mengandung tanggung jawab yang luhur pula”. Mereka menyadari bahwa karena menyandang nama Kristus yang luhur, maka mereka bertanggung jawab untuk menjaganya dengan berperilaku seperti Dia.

Menyandang nama Kristen, baik bagi kita secara pribadi, demikian juga bagi sekolah, universitas, rumah sakit, lembaga ataupun organisasi Kristen, berarti kita menyandang tanggung jawab untuk selalu mengacu kepada Yesus Kristus: dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Kiranya melalui perilaku hidup kita, keluhuran nama Kristus tetap terjaga, bahkan semakin meluas ke seluruh bumi. –HT/www.renunganharian.net

MENYANDANG NAMA KRISTUS HENDAKNYA MEMBUAT KITA
MENJALANI HIDUP DENGAN MENELADANI SANG PENEBUS.