Merendahkan Diri seperti Kristus

Vika, seorang yang masih baru dalam kepengurusan gereja, dihadapkan pada sidang pengurus karena suatu perbuatan yang dituduhkan kepadanya. Perbuatan itu sebenarnya tidak benar, tetapi ia tidak dapat membela diri karena ia kurang dipercaya. Para pengurus itu lebih percaya pada laporan yang mereka terima dari sosok yang dianggap lebih senior. Dalam kondisi begitu, Vika diingatkan agar merendahkan dirinya, juga memilih untuk mengalah sekalipun ia tetap harus mengatakan kebenaran atas segala tuduhan tersebut.

Berada dalam situasi seperti pengalaman Vika tentulah tidak mengenakkan. Bagaimana mungkin bisa berdiam diri atau mengalah ketika tuduhan diarahkan atas perbuatan yang tidak kita lakukan? Namun, melalui bacaan firman hari ini kita diingatkan untuk belajar dari teladan Kristus. Segala tuduhan yang membawa-Nya ke bukit Golgota untuk disalibkan, tentu saja tidak ada yang benar. Namun, Yesus tidak marah atau membalas semua perlakuan keji yang diterima-Nya, sekalipun Ia sebenarnya dapat melakukannya. Yesus memilih merendahkan diri supaya rencana Bapa Surgawi tergenapi melalui kematian-Nya di kayu salib.

Yesus pernah berkata, “… belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Suatu ajakan yang disampaikan melalui teladan nyata lewat peristiwa penyaliban. Kita sebagai umat-Nya seharusnya mengikuti jejak dari teladan Kristus itu dalam kehidupan keseharian, terutama ketika kita mengalami ketidakadilan atau tuduhan palsu, sambil menantikan pertolongan-Nya dinyatakan. –GHJ/www.renunganharian.net

KRISTUS ADALAH TELADAN TERBAIK BAGI SIAPA PUN
YANG INGIN BELAJAR AKAN KERENDAHAN HATI.