Menyusahkan Semua

Sore itu jalan tol bebas hambatan yang saya lalui menjadi tidak bebas lagi. Lalu lintas padat merayap, nyaris macet total. Kami, para pengguna jalan, hanya bisa menanti dalam kegelisahan. Letih. Jengkel. Kacau. Penyebabnya satu, seorang pemuda mengemudi melebihi batas kecepatan, melakukan manuver ugal-ugalan, lalu menabrak mobil di depannya. Terjadilah kecelakaan yang bukan dirinya saja yang harus memikul akibatnya.

Sikhem, pemuda Kanaan itu, memerkosa Dina, putri Yakub (ay. 2). Tidak berhenti di situ, ia hendak mengawininya secara paksa (ay. 4). Demi mencapai niatnya, ia menggunakan pengaruh ayahnya untuk membujuk penduduk kota agar memenuhi persyaratan dari anak-anak lelaki Yakub-yang sebenarnya hanya siasat saja (ay. 13, 19-22). Akibatnya, semua lelaki penduduk kota mereka-yang sedang kesakitan setelah disunat-mati diparang pedang Simeon dan Lewi (ay. 25-26). Tuhan tak membenarkan tindakan anak-anak Yakub itu (ay. 30, lih. Kej. 49:5-7). Namun, kesalahan Sikhem nyata dan menjadi peringatan yang mahal harganya.

Ketika seorang pemuda ditegur atas tindakannya yang gegabah, ia berkilah bahwa dirinya sudah dewasa. Ditolaknya campur tangan pihak lain dengan dalih dirinyalah yang akan menanggung akibat jika terjadi sesuatu. Benarkah demikian? Kita ini hidup bermasyarakat. Baik atau buruk perilaku kita, tak pernah hanya kita sendiri yang menanggung akibatnya. Baik secara langsung maupun tidak, sendiri atau bersama-sama, selalu ada orang yang ikut merasakan dampaknya. –PAD/www.renunganharian.net

TUHAN MEMBERI KITA KEBEBASAN INDIVIDU AGAR DIKELOLA SECARA HARMONIS
DENGAN TANGGUNG JAWAB KEPADA MASYARAKAT.