Menyia-nyiakan Anugerah

Bagaimana perasaan kita, kalau kita memberikan sesuatu yang berharga kepada seseorang dan orang tersebut menyia-nyiakannya? Tentu kecewa, karena kita berharap pemberian itu dapat bermanfaat baginya. Itulah gambaran umat Israel. Mereka mendapat anugerah telah dipanggil keluar dari Mesir untuk masuk dalam hitungan sebagai umat Tuhan. Sepatutnya mereka hidup benar dalam anugerah itu. Namun nyatanya, mereka lebih menyesuaikan hidup dengan bangsa-bangsa lain dan berkubang dalam dosa.

Karena mereka tegar tengkuk, maka Allah menghukum Isarel dengan memecah kerajaan tersebut pada masa Rehabeam. Wilayah Israel terbagi menjadi Israel dan Yehuda. Israel dengan sepuluh suku menempati wilayah utara. Yehuda dan Benyamin menempati wilayah selatan. Kehidupan rohani kerajaan utara semakin jauh dari Tuhan. Mereka akan hancur di tangan bangsa Asyur. Setelah Amos menyatakan hukuman Tuhan, Allah menyatakan bahwa kesepuluh keturunan Yakub akan punah. Dalam pengamatan Tuhan mereka telah berbuat dosa. Tuhan akan menampi mereka seperti gandum untuk memisahkan gandum dari kotoran. Mereka seperti kerikil yang tidak lolos saringan.

Kegagalan hidup Israel menjadi pelajaran bagi kita. Siapakah kita sehingga Tuhan menebus kita dengan darah Kristus? Adakah yang dapat kita bayar bagi karya Yesus? Tidak ada. Semua yang Yesus kerjakan adalah anugerah semata. Semua dilakukan untuk kebaikan kita. Maka sepatutnya kita hidup sebagai orang yang bersyukur, mengandalkan Yesus, dan hidup di dalam kekudusan sesuai dengan panggilan kita. –ENO/www.renunganharian.net

HARGA PENEBUSAN KITA TERLALU MAHAL UNTUK DISIA-SIAKAN.