Menyelidiki Sendiri

Awal mengirim naskah untuk Renungan Harian, saya mendapat kiriman Pedoman Penulisan dari Redaksi. Di sana tercantum salah satu tujuan Renungan Harian, yaitu menolong agar pembaca dapat “membangun hubungan pribadi dengan Tuhan dengan menggunakan Renungan Harian sebagai renungan pendamping (bukan pengganti) waktu teduh”. Tujuan ini menjadi pegangan tulisan saya. Naskah saya usahakan ringkas dan hanya sekadar menjadi pengantar pembaca menjalani saat teduh pribadi. Masalahnya, berapa banyakkah pembaca yang masih berjuang membaca sendiri Alkitab dan menggali kebenarannya?

Orang Yahudi di Berea dipuji oleh Lukas, penulis kitab Kisah Para Rasul. Mereka dihargai karena menerima firman dengan kerelaan hati. Lebih dari itu, mereka menyelidiki sendiri, apakah yang dikatakan oleh Rasul Paulus sungguh sesuai dengan Kitab Suci yang menjadi acuan mereka. Mereka disebut baik hati karena tidak serta merta menolak Paulus dan memusuhinya. Sebaliknya, mereka memiliki hati yang ingin belajar firman Tuhan dan menyambut hamba Tuhan yang memberitakan kebenaran.

Tidak cukup mengandalkan renungan atau hasil pemikiran orang untuk mengisi saat teduh kita. Tidak juga khotbah bagus. Buku tafsir atau tulisan tokoh Kristen memang sangat perlu kita simak. Namun lebih penting adalah menyelidiki sendiri Kitab Suci. Sebab Alkitab adalah sumber makanan rohani kita. Ketika kita memperoleh penjelasan dari orang lain, kita tetap harus meneliti dan menggalinya sendiri dari sumbernya. –HEM/www.renunganharian.net

MENYELIDIKI SENDIRI KITAB SUCI MEMBERI KITA PEMAHAMAN AKAN FIRMAN TUHAN
DAN KEMAMPUAN UNTUK MEMBEDAKAN AJARAN YANG BENAR DAN YANG PALSU.