Menolak Tuhan

Ketika Nabi Samuel telah tua dan anak-anaknya tidak bisa diandalkan karena kegagalan moral mereka, bangsa Israel memberontak meminta raja untuk memimpin mereka. Inilah masa transisi dari masa hakim-hakim kepada masa kerajaan. Umat Israel merasa kalau dipimpin raja, keamanan mereka lebih terjamin. Mereka lebih menaruh kepercayaan pada kekuatan yang kelihatan ketimbang kekuatan yang hanya dapat dilihat melalui kacamata iman.

Tuhan menilai penolakan ini adalah penolakan bangsa Israel terhadap diri-Nya. Namun Dia membiarkan mereka mengambil pilihannya. Sepertinya bangsa Israel merasa menang karena Allah membiarkan mereka. Namun, sesungguhnya sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di tengah bangsa itu. Sebenarnya yang terjadi ialah justru merekalah yang sedang menjauhkan diri dari anugerah Allah. Hal itu terungkap dari peringatan Allah tentang kesulitan yang akan dihadapi dengan raja baru mereka, dan apabila bangsa itu menangis mencari Tuhan, Dia tidak akan menjawab. Tetapi walaupun konsekuensi mengerikan sedang menunggu, jalan tersebut tetap akan mereka tempuh.

Bagaimana dengan kita sendiri? Ketika kesulitan hidup menghadang, kepada siapakah pertama-tama kita berpaling? Apakah kita mengandalkan yang kelihatan seperti kekuatan diri sendiri, harta kita atau kekuasaan dunia? Hal ini sama halnya menolak Tuhan, yang berarti menolak juga anugerah-Nya. Jangan remehkan kekuatan yang tidak kelihatan yaitu kuasa Tuhan. –ENO/www.renunganharian.net

PERCAYALAH, HANYA ANUGERAH-NYA
YANG SANGGUP MENOLONG DAN MENYELAMATKAN KITA.