Menolak Menjaga Sesama

Ketika Tuhan bertanya tentang Habel, Kain menjawab, “Apakah aku penjaga adikku?” (ay. 9). Dengan jawaban retoris itu, Kain bukan mau mengatakan, “Aku tidak tahu, ” melainkan menyatakan pengingkaran, “Aku bukan penjaga adikku.” Artinya, Kain menyatakan bahwa menjaga saudaranya adalah hal yang sama sekali bukan urusannya, bukan kewajibannya, bukan tanggung jawabnya.

Di bumi yang riuh ini, banyak pihak menolak kewajiban untuk ikut menjaga sesama. Orang melakukan sesuatu tanpa peduli bahwa tindakannya bisa mencelakai sesama. Contohnya banyak. Para pembunuh, para teroris, pedagang narkoba, pelaku perdagangan manusia, demikian juga orang yang bukan karena terpaksa keadaan menafikan protokol kesehatan hingga dirinya berpotensi menularkan penyakit kepada sesama, adalah pihak-pihak yang menolak menjaga sesama. Tidak hanya itu. Memanfaatkan wabah sebagai peluang meraup untung dengan menaikkan harga kebutuhan kesehatan, mempermainkan harga sembako hingga rakyat dirugikan, mengunggah konten pornografi, menebar hoaks untuk memicu kekacauan, adalah wujud-wujud penolakan terhadap tanggung jawab untuk menjaga sesama. Dan masih banyak lagi.

Menuruti keinginan untuk berbuat sesuatu tanpa peduli bahwa perbuatan itu bisa mencelakai sesama adalah menolak menjaga sesama. Bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa sesama diberikan oleh Tuhan untuk kita terima sebagai saudara. Itu adalah perintah agar kehadiran kita di tengah sesama sungguh merealisasikan amanat dari Tuhan untuk ikut serta menjaga mereka. –EE/www.renunganharian.net

MENURUTI KEINGINAN UNTUK BERBUAT SESUATU TANPA PEDULI BAHWA
PERBUATAN ITU BISA MENCELAKAI SESAMA ADALAH MENOLAK MENJAGA SESAMA.