Menolak Ajaran Sehat?

Andie, seorang pekerja media mengutarakan keresahannya terhadap semakin beragamnya pengajaran di dalam gereja belakangan ini. “Sebagian dari mereka menerima pengajaran yang jelas keliru, tapi kok tak ada yang mempermasalahkan, ya?” ujarnya suatu kali sambil menyodorkan sebuah tayangan berisi pengajaran yang menurutnya menyimpang. Kami pun sepakat bahwa apa yang dialami gereja masa kini adalah penggenapan dari pesan Paulus kepada Timotius, seperti nas renungan hari ini.

Peringatan dari Paulus sangat jelas, mengenai waktu dimana orang percaya tak dapat lagi menerima ajaran yang sehat-sekalipun mereka tahu bahwa ajaran yang sehat pasti bermanfaat. Sebaliknya, mereka akan mencari para pengajar yang dapat memberikan sesuatu yang memuaskan keinginan mereka. Model umat Tuhan seperti ini biasanya takkan senang dengan isi pemberitaan firman yang berkaitan dengan pertobatan, penyangkalan diri, atau berkorban bagi sesama. Sebaliknya, khotbah yang terdengar menyenangkan, berisi janji berkat, mukjizat, atau kemudahan hidup menjadi hal yang ingin mereka dengarkan.

Alkitab memang mengajarkan tentang Allah yang memberkati, menolong dan memberi solusi, atau menyatakan kuasa-Nya dengan ajaib. Namun, umat Tuhan rasanya juga perlu belajar untuk menerima ajaran yang sehat, meski terkadang tidak enak didengar. Bukankah Yesus juga tak selalu mengajarkan soal berkat, kemudahan hidup, atau mukjizat? Bertolak dari nas renungan tadi, mari pastikan bahwa kita tidak termasuk kelompok yang dimaksud oleh Paulus! –GHJ/www.renunganharian.net

MENOLAK AJARAN SEHAT DAPAT MENJADI AWAL STAGNASI
DAN KEMUNDURAN ROHANI.