MENINGGALKAN KELAMBANAN

Saya termasuk orang yang cenderung kurang sabar berurusan dengan orang yang lamban, mulai dari urusan kerja, pelayanan, rumah tangga, hingga hal-hal sepele. Seseorang seharusnya dapat mengerjakan sesuatu dengan cepat, tetapi terbiasa berlambat-lambat, sebenarnya sedang membuang waktu untuk hal yang sia-sia. Tak hanya itu, kelambanan juga dapat membuat seseorang kehilangan peluang untuk memperoleh sesuatu karena orang yang lebih cepat (rajin) sudah lebih dahulu menyambar peluang itu.

Menurut nas renungan hari ini, tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin—bisa pula diartikan: terbiasa mengerjakan sesuatu dengan cepat, dapat menjadi kaya. Kata “kaya” di sini tak hanya diartikan sebagai kesempatan mendapatkan harta atau materi dengan berlebih, tetapi bisa pula berarti kesigapan menangkap peluang untuk hal-hal yang menguntungkan atau bermanfaat bagi kita. Seseorang yang bergegas bangun untuk memulai hari setiap pagi, bisa pula dikategorikan sebagai orang rajin yang berpeluang untuk berhasil dalam hidupnya. Sebaliknya, orang yang lamban akan lebih dekat dengan kegagalan.

Sampai hari ini, adakah kesempatan yang hilang dan masih kita sesali hanya karena kurang cepat merespons kesempatan itu? Bagaimana dengan “kecepatan” kita dalam menyambut datangnya pagi? Apakah kita cenderung bergegas atau berlambat-lambat untuk bangun? Kiranya nas renungan hari ini mendorong kita untuk menjadi pribadi yang rajin. Tanggalkan kebiasaan lamban atau berlambat-lambat karena hal itu hanya akan merugikan.