Menindaklanjuti Penyesalan

Angga pulang dengan marah setelah ditegur pimpinannya. Di rumah ia memperlakukan istri dan anaknya dengan kasar sehingga mereka pergi ke rumah mertua. Bukannya memperbaiki diri, Angga berjudi dan mabuk. Kondisi bukannya membaik, melainkan justru memburuk karena ia menindaklanjuti penyesalannya dengan cara yang keliru.

Ada orang yang menghabiskan waktu dan energi untuk menyesali kesalahan yang sudah diperbuat. Padahal, ia sebetulnya sudah tahu kalau tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Kisah Daud ketika jatuh dalam dosa dan ditegur oleh nabi-Nya, selalu menjadi pengingat yang baik bagi kita.

Jika Daud terus-menerus menyesali diri karena sudah membunuh Uria dan berzinah dengan Batsyeba, ia tidak akan menjadi raja yang diperkenan oleh Tuhan. Ia sadar dosa yang dilakukannya membuat Tuhan murka dan mendatangkan banyak masalah, ia sadar itu tangggung jawabnya, ia menerima konsekuensi dosa yang dilakukannya. Daud mengakui dosanya, memohon agar Tuhan tidak mengingat-ingat lagi pelanggarannya dan mengingat segala kasih setia-Nya.

Menyesal dan memohon ampun kepada Tuhan atas segala dosa kita itu sudah benar. Namun, jauh lebih berguna kalau kita menindaklanjuti penyesalan dengan tidak lagi mengulangi perbuatan yang sama dan melakukan perbuatan yang berguna. Jadikan kesalahan atau dosa pada masa lalu sebagai pembelajaran, agar kita sekarang dan nanti mengerjakan hal-hal yang berguna dan berdampak positif. –RTG/www.renunganharian.net

RESPONS PENYESALAN YANG BENAR ADALAH
MEMOHON AMPUN KEPADA TUHAN DAN MEMPERBAIKI DIRI.